Sentuhan Kemanusiaan di Balik Ruang Polsek: Ketika Badai Rumah Tangga Berujung Damai di Plakat Tinggi

MUSI BANYUASIN — Badai dalam sebuah pernikahan dapat datang kapan saja, bahkan setelah puluhan tahun bersama. Namun, badai pula yang kerap mengajarkan arti pentingnya kesabaran, penyesalan, dan pintu maaf yang selalu terbuka.

Inilah yang tercermin di Polsek Plakat Tinggi, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), pada Rabu (28/10/2026) siang. Ruang pemeriksaan yang biasanya tegang, hari itu berubah menjadi tempat bernaungnya ketulusan dan rekonsiliasi.

Menyelesaikan Perselisihan dengan Kepala Dingin
Perselisihan rumah tangga sempat memuncak di Dusun I, Desa Sumber Rejeki, melibatkan pasangan suami istri, Mustopa (54) dan Hosia Ningsi (57). Emosi sesaat berujung pada tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh sang suami, mengakibatkan memar pada bagian rahang kanan sang istri tercinta.

Menyadari situasi tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, Bhabinkamtibmas Polsek Plakat Tinggi, Bripka Hardiansyah, bersama Kanit Reskrim Aiptu Candra Nasution, Kepala Desa Sumber Rejeki Bpk. Musgani, serta para tokoh masyarakat setempat, langsung bergerak cepat mengambil langkah humanis. Mereka memfasilitasi proses problem solving atau mediasi kekeluargaan.

“Setiap permasalahan rumah tangga memang paling baik diselesaikan secara baik-baik. Perdamaian adalah hal yang indah,” ujar Kapolsek Plakat Tinggi, IPTU M. Syazili, S.H., M.H., dengan penuh kehangatan.

Menuju Lembaran Baru
Di hadapan para tokoh masyarakat dan aparat kepolisian, suasana haru menyelimuti ruangan ketika Mustopa dengan tulus mengakui kesalahannya. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada istri yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun.

Mustopa menyadari bahwa amarah tidak akan menyelesaikan masalah. Ia berjanji di hadapan semua yang hadir untuk tidak akan pernah mengulangi perbuatan KDRT tersebut, baik kepada istrinya maupun kepada siapa pun di masa depan.

Baca Juga :  Inilah momen haru pelantikan Bintara Polri kala anak yatim berhasil lolos menjadi anggota polisi.

Hosia Ningsi, dengan lapang dada dan kebesaran hati seorang istri, menerima permohonan maaf tersebut. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak membawa masalah ini ke ranah hukum, melainkan merajut kembali keharmonisan rumah tangga mereka secara kekeluargaan.

Mediasi yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB itu pun ditutup dengan senyuman dan suasana yang aman serta kondusif. Sebuah pengingat bahwa di balik seragam aparat, kepolisian hadir tidak hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga merajut kembali kedamaian dan merawat kemanusiaan di tengah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *